Bekas Pegawai: Kami Butuh Pesangon Rp318 Miliar, Masa Merpati Tidak Mampu Sih

Bekas Pegawai: Kami Butuh Pesangon Rp318 Miliar, Masa Merpati Tidak Mampu Sih

JAKARTA berantakan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) sedang berutang Rp318, 17 miliar kepada 1. 233 karyawannya. Utang belum dibayarkan lagi sejak pembayaran pesangon ke beberapa karyawan pada 31 Desember 2018.

Bekas SVP Cooporate Planing Merpati Ery Wardhana mengatakan, dalam pertemuan dengan Kementerian BUMN, Tim Dobrak Merpati mengusulkan beberapa hal. Pertama, menyelenggarakan pembayaran sebesar Rp100 miliar dengan menggunakan dana dari PT Perusahaan Pengelolaan Aset (Persero).

Di mana terdapat dana PPA sebesar Rp150 miliar yang bisa digunakan buat bayar pesangon. Jika dipotong buat menggaji karyawan dan direksi Merpati dihitung sekira Rp10 hingga Rp50 miliar artinya masih menyisakan Rp100 miliar.

Mengucapkan Juga:   Jalan Buntu Pembayaran Pesangon Eks Karyawan Merpati

“Kalau saya solusinya saya sampaikan di sini. Urusan kami pertama ada uang Rp150 miliar yang belum terpakai menurut kami. Paling terpakai bayar penghasilan anggaplah Rp10 miliar. Masih tersedia sisa Rp100 miliar, ” ujarnya saat ditemui di Kantor Departemen BUMN, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Sedangkan Merpati masih punya tanggungan pesangon Rp318 miliar. Jadi Merpati tinggal mencari uang sejumlah Rp200 miliar.

“Kami butuh buat pesangon Rp318 miliar. Tinggal nyari Rp218 miliar sedang masa tidak bisa sih, ” kata Ery.

Menurut Ery, sangat mudah bagi perseroan mendapatkan dana sebesar Rp200 miliar. Apalagi Merpati masih memiliki kekayaan yang ada di MMTC.

Baca Juga:   Tak di Kantor, Para Purnawirawan Merpati Gagal Ketemu Menteri BUMN

Di bagian lain, PPA juga tidak malu menggelontorkan uang sebesar Rp200 miliar. Mengingat perusahaan BUMN pengelola aset ini sudah menerima banyak laba dari Merpati.

“Kedua Merpati masih ada asetnya di MMTC. Ketiga PPA udah belasan tahun ngurusin Merpati, udah dapet manfaat banyak dari Merpati ngasih pinjaman dengan bunga, ngambil aktiva Merpati. Itu kan dia dengan membuat programnya semua, ” jelasnya.

Setelah itu, Merpati bisa kembali melanjutkan program restrukturisasi lanjutan yang sempat tertunda. Rencana ini tertunda akibat belum adanya investor yang menanamkan modalnya.

Dari lima rangkaian rencana restrukturisasi ini, saat ini kerdil pada poin nomor 3, yakni Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Sempat ingin dilanjutkan, namun terpaksa ditunda karena ada perusahaan katering yang tiba-tiba menagih utang kepada Merpati.

“Saya tetap mereka siap menggelontorkan Rp200 miliar dalam rangka program lanjutan. Berakhir itu mau matikan merpati silahkan, ” jelasnya.

(fbn)

Loading…