Pemimpin OJK: Saya Tak Ada Rencana Keluarkan Stimulus Tambahan

JAKARTA – Kepala DK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengaku belum memiliki rencana menambah stimulus bagi industri keuangan menghadapi Covid-19.

Di mana pada 2020 hingga 2022, OJK merancang berbagai stimulus agar pabrik keuangan dapat ikut berperan mengatasi dampak Pandemi Covid-19. Salah satunya restrukturisasi nama yang masih diperpanjang hingga tahun depan.

“Saya tidak teristimewa ada rencana lagi untuk mengeluarkan kebijakan stimulus tambahan, ” kata Wimboh pada webinar yang digelar MNC Group di Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Baca Juga:   Perintah OJK Awasi Mata Uang Digital

Dia juga menjanjikan pasti akan meninjau efektifitas stimulus-stimulus yang telah dikeluarkan pihaknya. Agar stimulus yang tersedia memberikan dampak positif kepada pemulihan. OJK telah memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit tenggat 31 Maret 2022.

Hal itu tertuang dalam POJK Nomor 48 /POJK. 03/2020 Tentang Transformasi Atas Peraturan Otoritas Bantuan Keuangan Nomor 11/POJK. 03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

OJK pula memberikan 3 stimulus kepada perbankan dalam berbagai wujud; Pertama, menurunkan bobot risiko kredit (ATMR) menjadi 50% bagi Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dari sebelumnya 100%. Berikutnya perbankan yang memenuhi kriteria profil risiko 1 dan 2 dimungkinkan untuk memberikan uang muka kredit kendaraan bermotor sebesar 0%.

Menangkap Juga:   OJK Terbitkan Roadmap Pengembangan Bank 2021-2025

Tatkala itu, untuk kredit pada produsen Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) telah mendapat pengecualian batas penuh pemberian kredit (BMPK), penilaian kualitas aset 1 asas. Selanjutnya, untuk penilaian ATMR Kredit diturunkan menjadi 50% dari semula 75%.

Kedua, OJK juga juga menurunkan ATMR nilai beragun rumah tinggal ataupun KPR dengan rincian sebegai berikut: Uang Muka 0-30% (LTV ≥70%) ATMR 35%, Uang Muka 30-50% (LTV 50-70%) ATMR 25%, Kekayaan Muka ≥ 50% (LTV ≤ 50%) ATMR 20%

Ketiga, provokasi juga diberikan untuk Pengaruh Sektor Kesehatan dengan menetapkan bahwa kredit untuk sektor kesehatan dikenakan bobot risiko sebesar 50% dari sebelumnya 100%.