Zakat Berpotensi Kurangi Biaya Fiskal Negeri Hadapi Pandemi

Zakat Berpotensi Kurangi Biaya Fiskal Negeri Hadapi Pandemi

JAKARTA – Penasihat Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat mengatakan, keuangan Islam memiliki potensi kuat di dalam mempromosikan pembangunan sosial dan ekonomi.

Selain itu, keuangan Islam, salah satunya zakat, juga menawarkan instrumen keuangan sosial dengan menargetkan kelompok miskin, membutuhkan, & rentan di tengah pandemi Covid-19. “Zakat memiliki potensi besar di mengurangi biaya fiskal pemerintah dalam menghadapi Covid-19, terutama untuk kebutuhan dasar masyarakat miskin, yang membutuhkan, dan yang terdampak, ” ujar Sutan, dalam video virtual dalam Jakarta, kemarin.

Peristiwa ini mengingat status Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia. Penghargaan ini terkait dengan amal berbasis agama (World Giving Index 2019). “Indonesia juga adalah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia dengan 87% populasi muslim, ” ungkap Sutan.

Dia juga menuturkan bahwa potensi pengumpulan zakat di 2019 sebesar Rp233, 84 triliun atau sekitar USD14, 9 miliar. Sementara itu, pengumpulan aktualnya sekitar Rp10 triliun melalui Amil formal.

“Perlu dicatat pula bahwa pengumpulan zakat, infak, dan sedekah di Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 36, 2% selama tahun 2002 hingga 2019, ” katanya.

Eksekutif Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Departemen Agama (Kemenag) Tarmizi Tohor mengutarakan, sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, Indonesia mempunyai potensi zakat dan wakaf yang sangat besar. Jika mampu dimaksimalkan dan dikelola dengan baik, tersebut bisa digunakan untuk perbaikan ekonomi umat.

“Potensi derma nasional mencapai Rp217 triliun, sedangkan potensi wakaf uang nasional Rp233 triliun, ” kata Tarmizi.

Besarnya potensi zakat serta wakaf nasional tak terlepas sebab sifat kedermawanan masyarakat Indonesia yang memiliki indeks tertinggi di dunia berdasarkan riset World Giving Index 2018. Rakyat Indonesia yang kebanyakan kaum muslimin rela memberikan sebagian hartanya untuk mengembangkan agamanya. “Untuk wakaf tanah saat ini seluas 500. 239. 800 meter persegi dengan tersebar di 378. 456 bercak, ” ujar Tarmizi Tohor.

Menurutnya, Kemenag tengah berupaya meningkatkan literasi zakat dan derma masyarakat Indonesia. Sebab, dari buatan survei yang dilakukan tahun tersebut di 32 provinsi dengan 3. 200 responden, pemahaman umat Islam terhadap zakat dan wakaf masih tergolong rendah, terutama terkait interpretasi zakat dan wakaf lanjutan.

“Zakat dan wakaf ini adalah potensi besar yang dimiliki umat Islam yang bisa dimanfaatkan untuk perbaikan di bidang ekonomi umat. Zakat dan wakaf tidak hanya diberikan begitu saja, tapi juga diberdayakan untuk memperbaiki hajat hidup orang banyak, ” ucapnya.

Salah satu yang telah dilakukan Kemenag adalah mendirikan 14 Kampung Zakat yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Agenda ini mengoptimalkan pemberdayaan mustahik dengan tujuan penanganan kemiskinan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat.

“Kampung Zakat melakukan pengembangan kegiatan semasa tahun 2018-2020 dengan melibatkan 27 Baznas dan 25 Lembaga Amil Zakat untuk 3. 601 duafa di 14 lokasi, ” membuka Tarmizi.

Terkait negeri wakaf, Kemenag bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun Rumah Lapis Sederhana Sewa (Rusunawa) di Bojonegoro, Jawa Timur. Rusunawa ini dibangun di atas tanah wakaf jadi menjadi produktif.

Carik Dirjen Bimas Islam Kemenag Fuad Nasar mengatakan, untuk meningkatkan literasi zakat dan wakaf, pihaknya membidik lembaga pendidikan, yakni menyampaikan isu-isu zakat dan wakaf kekinian di sekolah-sekolah. Selain itu juga menggunakan para penyuluh agama sebagai distributor sosialisasi ke tengah masyarakat.

“Secara prinsip zakat dan wakaf memang ajek sepanjang kala, tapi bisa direkonstruksi agar kontekstual sepanjang tidak keluar dari asasnya, ” tandasnya.

Dia mengakui realisasi zakat dan derma nasional memang masih jauh lantaran potensi yang ada. Zakat, misalnya, hanya terkumpul sekitar Rp10 triliun per tahun, sedangkan wakaf kekayaan hanya sekitar Rp250 miliar. Untuk meningkatkan realisasi potensi zakat serta wakaf, Kemenag juga memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat menyalurkannya. (CM)

(yao)